Popular Posts

Rabu, 22 Oktober 2014

Selembar Tisu di Pelaminan

2. Rasa Kehilangan

Ya, tidak salah lagi, nama yang Ia baca itu ialah nama seseorang yang pernah menjadi sosok yang begitu berharga dalam hidupnya. Kebersamaan yang pernah terjalin selam 4 tahun lamanya, memberikan banyak kenangan yang sampai saat inipun masih tak bisa lekas menghilang dari ingatannya. Hatinya terbelenggu, tak jelas apa yang dia rasakan. Namun yang pasti tak pernah ada di benaknya hal ini akan terjadi kepadanya, ketika seseorang yang pernah begitu ia sayangi dan masih ia harapkan untuk kembali memberikannya undangan pernikahan dengan laki-laki lain yang membuat harapannya mati begitu saja.

Memang sudah lama ia tidak bertukar kabar dengan Tiara. Yang Ia tahu Tiara sedang menempuh jenjang S2 di kota yang belum pernah Adnan datangi, Kota Jogja. Perpisahan yang terjadi pun karna Tiara tidak mau menjalani hubungan jarak dengan Adnan, sementara Adnan sudah bekerja dan tidak mungkin pergi meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Akhirnya Adnan pun mengalah, ia merelakan Tiara untuk pergi, karna ia merasa tak baik juga menahan dan memaksa seseorang yang memang ingin melanjutkan pendidikannya untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Namun ketika itu, Adnan masih berharap Tiara tidak begitu saja memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin cukup lama. Dan ketika ia menyampaikan perpisahanpun ia masih bersikeras untuk meyakinkan Tiara, bahwa ia akan menunggunya hingga Tiara menyelesaikan S2nya. "Ra, Aa tau mungkin ini berlebihan, tapi yang jelas perasaan sayang Aa ini bukan sekedar kantong kresek bekas gorengan yang bisa Aa buang begitu saja, Aa masih akan sendiri ketika kamu selesai sekolah di Jogja sana, Aa harap kamu bisa mengerti, salam sayang!", begitulah isi dari pesan singkat yang Adnan kirim sesaat sebelum Tiara berangkat menuju Jogja. Adnan begitu mengharapkan balasan pesan dari Tiara. Namun, harapannya tak berbalas. Tiara tidak membalas pesan yang ia kirim. Meskipun begitu, Adnan tetap berfikiran positif, mungkin Tiara ingin fokus untuk studi yang akan segera ia hadapi.

Hari-demi hari berlalu, begitu terasa berat di hati Adnan, setelah Tiara pergi, ia merasa kehilangan yang amat sangat. Tiara yang ceria, selalu membawanya ke dunia yang berbeda setiap kali ia bersamanya. Dunia yang penuh tawa, yang senantiasa menghilangkan penat yang seringkali hinggap dibenaknya. Kehangatan kasih sayang yang Tiara berikan, sempat menumbuhkan niat dari Adnan untuk segera menikahinya, namun setiap kali Adnan mengajaknya untuk menikah, Tiara selalu saja menyatakan belum siap, dan ia ingin menyelesaikan studinya terlebih dahulu sebelum ia siap untuk menikah. Dan pada akhirnya, ke inginan suci dari Adnan untuk menikahi Tiara pupus begitu saja ketika Tiara ingin studi di kota seberang.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar