Popular Posts

Kamis, 23 Oktober 2014

Selembar Tisu di Pelaminan

3. Kabar dari Sahabat

Adnan adalah orang yang sederhana, tapi dia selalu memberikan cintanya dengan tidak sederhana. Dia selalu menganggap bahwa cinta yang begitu tulus yang ia berikan kepada seseorang adalah anugerah Tuhan yang sepatutnya jangan disia-siakan. Begitu kuat idealismenya, sehingga terkadang ia tak mendengar nasehat-nasehat dari sahabatnya dan kemudian merasakan sakit karena di tinggalkan. Terkadang cinta memang membodohkan seseorang, membutakannya dari realitas yang ada. Namun terkadang juga, cinta yang begitu tulus yang diberikan kepada seseorang, dapat mengubah realitas menuju keindahan cinta yang sejujurnya ada.

Rabu, 22 Oktober 2014

Selembar Tisu di Pelaminan

2. Rasa Kehilangan

Ya, tidak salah lagi, nama yang Ia baca itu ialah nama seseorang yang pernah menjadi sosok yang begitu berharga dalam hidupnya. Kebersamaan yang pernah terjalin selam 4 tahun lamanya, memberikan banyak kenangan yang sampai saat inipun masih tak bisa lekas menghilang dari ingatannya. Hatinya terbelenggu, tak jelas apa yang dia rasakan. Namun yang pasti tak pernah ada di benaknya hal ini akan terjadi kepadanya, ketika seseorang yang pernah begitu ia sayangi dan masih ia harapkan untuk kembali memberikannya undangan pernikahan dengan laki-laki lain yang membuat harapannya mati begitu saja.

Senin, 20 Oktober 2014

Selembar Tisu di Pelaminan.

1. Datangnya Undangan

Musim hujan menjadi musim yang sulit untuk berkendara di tempat tinggalnya, karena kondisi jalanannya yang masih belum tersentuh mulusnya aspal, Adnan harus mencuci motornya setiap kali ia pulang kerja. tak berapa lama, ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Puk! "Eh, Robby, Apa kabar?" sapa Adnan sambil mencuci tangannya. Robby adalah teman sebangku Adnan ketika masih di bangku SMP. Tapi mereka tetap berhubungan baik, karena letak rumah yang hanya beda kampung. "Baik, Ad, rajin amat nyuci motor? besok juga kotor lagi kali Ad", jawab robby sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman. "Ya... seengganya kan, biar besok agak segeran!" tepas Adnan. "Iya deh iya!" jawab Robby sambil membuka tasnya. "Ada apa nih, tumben2an mampir? biasanya cuma lewat doang!" tanya Adnan, "Ini Ad, ada undangan." jawab Robby sambil mencari undangan yang tertera nama Adnan. "Wah, undangan apa nih? undangan pernikahan kamu ya Rob?" tanya adnan sambil penasaran. "Wiss... bukan, aku mah belum ada calon euy, hehehe" jawab robby sambil ketawa2. "Ah... belum ada, apa belum bisa milih karena kebanyakan calon? hehe", tepas Adnan sambil menyindir Robby yang memang agak sedikit playboy. "Nah itu kamu tau, hahaha", jawab Robby dan keduanya tertawa ringan seketika. "Ini nih undangannya" sambung Robby. "Ooo..." Adnan sedikit kaget melihat nama yang tertera di undangan tersebut. "Kenapa Ad, kok kaya kaget gitu?" tanya Robby penasaran. "hmmm... Kamu kenal sama Tiara, Rob?" Tiara adalah nama calon pengantin perempuan yang tertulis di Undangan tersebut. "Itu saudara jauh aku Ad, anaknya dari sepupunya bibi aku!" jawab Robby. "Ooo,,, sip deh, thank's Rob udah nganterin undangannya ke sini!" jawab Adnan sambil menepuk pundaknya Robby. "Masuk dulu atuh ke dalam, ada kopi-kopi mah!" sambung Adnan mengajak Robby untuk ngopi. "Duh, bukannya nolak tawaran nih Ad, tapi aku di tungguin ibu, tadi disuruh beli minyak goreng!" jawab Robby. " Ya udah atuh ga pa2, lain kali tapi mampir ya?" tepas Adnan. "Iya sip, y udah aku pulang dulu Ad" Robby pamit pulang. "Yoo... hati2 dijalan!" jawab adnan sambil menyalami Robby. Melihat Robby telah berlalu dan sudah menghilang dari pandangannya, Adnan kembali melirik nama yang ada di Undangan yang Ia terima. Tiara Nurazizah. itulah nama lengkap calon penganting perempuan yang tertera dalam undangan tersebut. Nama yang membawanya kembali terhanyut dalam kenangan yang masih terasa hangat dalam ingatan.