1. Datangnya Undangan
Musim hujan menjadi musim yang sulit untuk berkendara di tempat tinggalnya, karena kondisi jalanannya yang masih belum tersentuh mulusnya aspal, Adnan harus mencuci motornya setiap kali ia pulang kerja. tak berapa lama, ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Puk! "Eh, Robby, Apa kabar?" sapa Adnan sambil mencuci tangannya. Robby adalah teman sebangku Adnan ketika masih di bangku SMP. Tapi mereka tetap berhubungan baik, karena letak rumah yang hanya beda kampung. "Baik, Ad, rajin amat nyuci motor? besok juga kotor lagi kali Ad", jawab robby sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman. "Ya... seengganya kan, biar besok agak segeran!" tepas Adnan. "Iya deh iya!" jawab Robby sambil membuka tasnya. "Ada apa nih, tumben2an mampir? biasanya cuma lewat doang!" tanya Adnan, "Ini Ad, ada undangan." jawab Robby sambil mencari undangan yang tertera nama Adnan. "Wah, undangan apa nih? undangan pernikahan kamu ya Rob?" tanya adnan sambil penasaran. "Wiss... bukan, aku mah belum ada calon euy, hehehe" jawab robby sambil ketawa2. "Ah... belum ada, apa belum bisa milih karena kebanyakan calon? hehe", tepas Adnan sambil menyindir Robby yang memang agak sedikit playboy. "Nah itu kamu tau, hahaha", jawab Robby dan keduanya tertawa ringan seketika. "Ini nih undangannya" sambung Robby. "Ooo..." Adnan sedikit kaget melihat nama yang tertera di undangan tersebut. "Kenapa Ad, kok kaya kaget gitu?" tanya Robby penasaran. "hmmm... Kamu kenal sama Tiara, Rob?" Tiara adalah nama calon pengantin perempuan yang tertulis di Undangan tersebut. "Itu saudara jauh aku Ad, anaknya dari sepupunya bibi aku!" jawab Robby. "Ooo,,, sip deh, thank's Rob udah nganterin undangannya ke sini!" jawab Adnan sambil menepuk pundaknya Robby. "Masuk dulu atuh ke dalam, ada kopi-kopi mah!" sambung Adnan mengajak Robby untuk ngopi. "Duh, bukannya nolak tawaran nih Ad, tapi aku di tungguin ibu, tadi disuruh beli minyak goreng!" jawab Robby. " Ya udah atuh ga pa2, lain kali tapi mampir ya?" tepas Adnan. "Iya sip, y udah aku pulang dulu Ad" Robby pamit pulang. "Yoo... hati2 dijalan!" jawab adnan sambil menyalami Robby. Melihat Robby telah berlalu dan sudah menghilang dari pandangannya, Adnan kembali melirik nama yang ada di Undangan yang Ia terima. Tiara Nurazizah. itulah nama lengkap calon penganting perempuan yang tertera dalam undangan tersebut. Nama yang membawanya kembali terhanyut dalam kenangan yang masih terasa hangat dalam ingatan.
Disimpannya undangan itu diatas meja di ruang tamu rumahnya. Undangan berwarna putih dan berbalut pita merah itu seakan memanggil Adnan untuk segera membacanya. Namun, ia berencana membuka undangan itu selepas shalat magrib, menunggu hatinya sedikit damai dari gangguan kenangan masalalunya yang masih saja tak bisa ia lupakan setelah sekian lama. Kembali melanjutkan mencuci motornya, ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tersela oleh datangnya Robby. Adzan magrib pun berkumandang, ia bergegas membersihkan diri dengan berwudhu dan berangkat ke mesjid dekat rumahnya untuk shalat berjamaah. Dalam shalatnya dia dihinggapi bayang2 semu yang mengganggu kekhusukannya. Namun Ia tetap harus selesaikan shalatnya. Tiga rakaat berlalu, dan dua salam pun menutup shalatnya. Dia yang biasa ikut berdzikir bersama dengan jamaah lain yang ada di situ setelah selesai shalat, kala itu ia ingin bergegas pulang dan membuka undangan tadi dan memastikan apakah undangan itu dari tiara yang ia kenal atau tiara yang lain. Berjalanlah ia ke rumahnya dengan perasaan yang tak jelas rupa. Sampailah ia di ruang tamu tempat tadi ia menyimpan undangannya. Di ambilnya undangan tersebut dari meja dan ia membaca sekali lagi nama yang ada dalam undangan tersebut "Tiara Nurazizah!" bacanya pelan.
Disimpannya undangan itu diatas meja di ruang tamu rumahnya. Undangan berwarna putih dan berbalut pita merah itu seakan memanggil Adnan untuk segera membacanya. Namun, ia berencana membuka undangan itu selepas shalat magrib, menunggu hatinya sedikit damai dari gangguan kenangan masalalunya yang masih saja tak bisa ia lupakan setelah sekian lama. Kembali melanjutkan mencuci motornya, ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tersela oleh datangnya Robby. Adzan magrib pun berkumandang, ia bergegas membersihkan diri dengan berwudhu dan berangkat ke mesjid dekat rumahnya untuk shalat berjamaah. Dalam shalatnya dia dihinggapi bayang2 semu yang mengganggu kekhusukannya. Namun Ia tetap harus selesaikan shalatnya. Tiga rakaat berlalu, dan dua salam pun menutup shalatnya. Dia yang biasa ikut berdzikir bersama dengan jamaah lain yang ada di situ setelah selesai shalat, kala itu ia ingin bergegas pulang dan membuka undangan tadi dan memastikan apakah undangan itu dari tiara yang ia kenal atau tiara yang lain. Berjalanlah ia ke rumahnya dengan perasaan yang tak jelas rupa. Sampailah ia di ruang tamu tempat tadi ia menyimpan undangannya. Di ambilnya undangan tersebut dari meja dan ia membaca sekali lagi nama yang ada dalam undangan tersebut "Tiara Nurazizah!" bacanya pelan.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar